“Bapak, apa kabar?”
Membaca bapak tak habis-habisnya ingat pada pakaian yang ditanggalkannya di pinggir perigi, menutup putri malu yang daunnya kian keriput.
Dalam samar-samar kabut, bapak berjalan di pematang menengok sawah juga kolam.
Di hadapan padi yang ditanamnya, mulutnya selalu mengucapkan doa-doa.
Dan di hadapan kolam tangannya tak lepas membelai ikan-ikan.
Setelah kabut itu tanggal, lalu bapak memungut kembali pakaian yang ditanggalkannya di pinggir perigi.
Wajahnya penuh cahaya, penuh harapan untuk anak-anak tercinta.
“Tapi kini, bapak tak ada!”
Aku seperti mujair yang hilang air di antara gerimis yang mengiris sepi.
“Apa artinya sirip jika kecipak air tak menjadi alir?”
Membaca bapak, aku selalu mencintai matahari di matanya yang teduh.
Di antara tubuhnya yang ringkih, kulit yang legam, tangan yang kasar,
ia tetap mengajarkan sajak-sajak tentang alam ...
tentang bagaimana menanam padi untuk membaca benih
tentang bagaimana membakar tungku untuk membaca api
tentang bagaimana menangkap ikan untuk membaca jala
tentang bagaimana mengolah tanah untuk membaca cangkul
tentang bagaimana menginjak lumpur untuk membaca bajak
tentang bagaimana mencium musim untuk membaca bintang
tentang bagaimana merasa napas untuk membaca udara
dan
tentang bagaimana mengeja Allah untuk membaca a, ba, ta, sa.
Bunyamin Fasya, Penyair Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung